Manusia Indonesia, dalam perjalanannya telah mengalami berbagai transformasi. Sebagai akibat pengaruh kehidupan dari berbagai masa mulai dari jaman tradisional, penjajahan, kemerdekaan sampai dengan era reformasi saat ini, transformasi tersebut telah mengubah wajah kekinian manusia Indonesia.
Muhtar Lubis dalam bukunya pernah menyebut, bahwa penyakit “hipokrit” menjadi ancaman serius kemanusiaan Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh budaya kurang jujur oleh karena sungkan atau dengan falsafah ABS atau asal bapak senang, Tak beda jauh, Umar kayam dalam bukunya Para priyayi juga menyebut bahwa budaya “konjuk kabekten” atau setor upeti (fee/komisi) menjadi warisan budaya negatif yang harus diwaspadai.
Disisi lain, derasnya arus informasi ikut pula mempengaruhi mindset dan cultureset manusia Indonesia. Budaya individualis telah mewabah seiring dengan banyaknya tayangan terutama lifestyle ala barat. Kebersahajaan, atau sikap “narimo” semakin lenyap sehingga kasus bunuh diri sebagai akibat keputusasaan semakin meningkat tajam. Tak hanya wong cilik di desa, tapi orang terpelajarpun sudah tak lagi aneh menjadi pelaku bunuh diri.
Karakter santun, ramah dan tidak jahil juga semakin langka ditemui. Di berbagai tempat sudah dipenuhi kejahatan dan kriminalitas. Preman jalanan mengintai di setiap sudut. Tak mau kalah preman berkerah putih juga memainkan aksinya. Dengan falsafah,”kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?” merekapun beraksi layaknya koboi jalanan. Minta secara halus, sampai dengan cara kasar.